Kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi
beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang
terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat.
Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah tujuan yang sama, kesamaan
persepsi, kemauan untuk berproses, saling memberikan manfaat, kejujuran, kasih
sayang serta berbasis masyarakat. Tujuannya adalah memecahkan masalah,
menciptakan sesuatu, dan menemukan sesuatu di dalam sejumlah hambatan. Namun,
dalam kolaborasi, juga ada hambatannya, antara lain: keahlian, biaya, waktu,
kompetisi, dan kearifan konvensional. Dalam masalah kolaborasi antar kelompok, pasti
memiliki konflik-konflik tertentu.
Pondy (dalam Luthans, 1983 : 382-383) mengemukakan tiga pendekatan
konseptual utama untuk mengelola konflik keorganisasian yakni:
1. Bargaining Approach, Pengelolaan
konflik model ini merujuk pada kelompok kepentingan yang berkompetisi karena
keterbatasan sumber daya. Strategi untuk mengatasi konflik adalah dengan
membagi secara merata kesempatan memperoleh sumberdaya atau mengurangi
keinginan untuk mendapatkan sumberdaya.
2. Bureaucratic Approach, yaitu
Pengelolaan konflik model ini merujuk pada hubungan kewenangan
secara vertikal di dalam struktur hierarkhi. Konflik akan terjadi apabila pihak
atasan ingin melakukan pengendalian ke bawah, tetapi mereka menolak untuk
dikendalikan. Strategi untuk memecahkan konflik adalah mengganti aturan- aturan
birokratis yang bersifat impersonal untuk pengendalian personal.
3. Systems Approach, Apabila pendekatan
tawar- menawar dan pendekatan birokratis gagal
menyelesaikan konflik, maka pendekatan sistem berisi koordinasi berbagai
masalah. Pendekatan ini merujuk pada hubungan horisontal dan kesamping diantara
fungsi-fungsi.
Ada dua strategi yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik
yakni :
1) mengurangi perbedaan terhadap tujuan dengan mengubah insentif,
atau melakukan seleksi yang sesuai;
2) mengurangi saling ketergantungan fungsional dengan mengurangi
ketergantungan pada penggunaan sumberdaya bersama-sama, dengan mengurangi
tekanan untuk konsensus.
Nah, bagaimana hubungan kolaborasi dengan tugas angkatan kita
dalam pembuatan formasi #untuk Indonesia? Pasti sangat berhubungan. Seperti yang
kita ketahui, sebanyak kurang lebih 3600 mahasiswa baru ITB 2013 dibagi menjadi
180 kelompok, tentu bukan jumlah yang sedikit kan? Untuk membuat formasi
tersebut kita sangat membutuhkan kolaborasi antar kelompok. Dan tentunya
kolaborasi tersebut tidak langsung jadi. Kadang ada salah satu yang tidak
setuju dengan pendapat yang lain, sehingga timbullah konflik. Namun, suatu
konflik harus dapat diatasi secara bersama-sama, sehingga membentuk kesepakatan
bersama. Inilah arti penting dalam kolaborasi di suatu kelompok. Dan pada
akhirnya kami segenap mahasiswa baru ITB berhasil membuat formasi #UntukIndonesia
Oleh: Nailnabilla Zain 16013084 - FMIPA
Oleh: Nailnabilla Zain 16013084 - FMIPA
No comments:
Post a Comment